Mengajak Anak Menjadi Vegetarian
Mengajak Anak Menjadi Vegetarian
Massachusetts, Sinar Harapan
Buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitu pepatah lama berbunyi. Gaya hidup vegetarian bisa jadi memiliki imbas serupa pula. Yang menjadi persoalan adalah apakah gaya hidup yang ”mengharamkan” segala bentuk makanan berasal dari hewan ini bisa berpengaruh pada pertumbuhan anak.
Contoh keluarga penganut vegetarian adalah keluarga Reed Mangles dari Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Ia bersama sang suami otomatis memberlakukan kebiasaan menyantap makanan nabati ini kepada anak-anak mereka. ”Akan aneh rasanya kalau kami menjadi vegetarian sedangkan anak kami tidak,” ujar ibu dua anak yang juga terdaftar sebagai penasihat diet dan masalah gizi di Vegetarian Resource Group yang berbasis di Baltimore, sebuah organisasi nonprofit yang memberi pendidikan mengenai vegetarianisme kepada ABC News baru-baru ini.
Bagi kebanyakan vegetarian yang menghindari semua produk makanan hewani, termasuk susu, mau tidak mau harus menemukan makanan pengganti yang bisa berperan sebagai penambah vitamin dan mineral yang terdapat dalam daging, susu dan keju. Bagi orang dewasa hal ini tidak terlalu sulit karena mereka mempunyai kesadaran sendiri untuk keperluan tubuhnya.
Sedangkan bagi anak-anak menjadi sulit masalahnya sebab mereka memerlukan lebih banyak vitamin dan mineral dibanding orang dewasa. Seperti yang kita tahu, masa kanak-kanak adalah masa pertumbuhan.
Namun di luar permasalahan tersebut, ada pula sisi baik dari gaya hidup vegetarian ini. Menggantikan daging dan susu dengan banyak mengonsumsi kedelai dan terigu ternyata mampu mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker.
”Ada beberapa kesalahpahaman mengenai diet vegetarian, tapi kini hal itu sudah berlalu,” ujar Dr.Dennis Bier, direktur Children’s Nutrition Research Center di Baylor College of Medicine di Houston. ”Hari ini ada begitu banyak produk tersedia bagi kaum vegetarian. Hal ini membuat banyak orang lebih mudah untuk mengadopsi diet ini.”
Dukungan
Tetapi kenyataan ini belum menjawab pertanyaan apakah vegetarianisme aman bagi anak-anak. Kebimbangan ini dijawab oleh Sheah Rarback, juru bicara American Dietic Association (ADA). ”Kita bisa membimbing seorang anak kecil hingga remaja dan dewasa dengan gaya hidup vegetarian,” ujar Rarback.
Nutrisi-nutrisi penting bisa berasal dari banyak sumber kendati sebenarnya sumber dari makanan hewani jauh lebih banyak. Ini berarti harus ada rancangan diet khusus anak-anak agar pertumbuhan mereka tidak terganggu. Rarback merekomendasikan beberapa diet vegetarian bagi anak-anak agar mereka tidak mengalami defisiensi walau harus menjadi vegetarian sejati.
Untuk keperluan kalori yang di atas takaran orang dewasa, anak-anak bisa mendapatkan melalui kacang-kacangan, beras, gandum. Pada usia ini, anak-anak sebaiknya tidak menjadi vegetarian 100 persen, dalam artian mereka masih mengonsumsi susu. Sedangkan kebutuhan protein bisa didapat dari kacang-kacangan dan berbagai produk kedelai seperti tofu atau juga susu kedelai.
Tidak boleh terlupakan juga seng dan zat besi, mineral yang berperan vital dalam pertumbuhan. Agak sulit mendapatkan sumber kedua mineral ini selain pada daging, tapi anak-anak bisa diberi alternatif lain pada makanan nabati seperti sayuran berwarna hijau tua, tepung terigu, buah-buahan, yogurt dan kacang-kacangan. Sementara kebutuhan tubuh anak akan kalsium dan vitamin D yang diperlukan bagi tulang bisa diperoleh melalui sayuran berwarna hijau gelap serta kedelai.
Namun kita perlu ingat bahwa meski orang tua menegakkan disiplin dalam diet vegetarian, kadang anak-anak akan ditempatkan dalam situasi sosial di mana mereka sulit berkompromi dengan makanan yang ada. Sebagai contoh, keluarga Mangles memberi sedikit keleluasaan pada anak-anaknya untuk memperbolehkan mereka mengonsumsi es krim ketika pesta ulang tahun teman.
Kebetulan keluarga ini mempunyai banyak teman yang bisa mengerti keputusannya untuk menjadi vegetarian. Kondisi seperti inilah yang masih sulit ditemukan di Indonesia. Menjadi ”pekerjaan rumah” tersendiri bagi penganut vegetarian di Indonesia untuk mengampanyekan betapa sehat gaya hidup satu ini. (mer)